Minggu, 23 Desember 2012

ANEMIA

Definisi
Definisi Umum yang digunakan untuk anemia, apapun penyebabnya, adalah konsentrasi hemoglobin (Hb) rendah. Jika kekurangan zat besi adalah penyebab yang mendasari, menurut definisi, individu kehilangan simpanan zat besinya, ferritin plasma yang rendah atau menurunnya kemampuan zat warna besi disumsum tulang mereka. Mereka juga mengalami inadekuat pengiriman zat besi untuk jaringan ditandai oleh saturasi transferin yang rendah, konsentrasi eritrosit porfirin yang tinggi, dan konsentrasi reseptor tranferin meningkat (2).
Anemia adalah suatu kondisi dimana kadar Hb dan/atau hitung eritrosit lebih rendah dari harga normal. Dikatakan sebagai anemia bila Hb < 14 g/dl dan Ht < 41 % pada pria atau Hb < 12 g/dl dan Ht <37 % pada wanita. Anemia adalah berkurangnya jumlah eritrosit serta jumlah hemoglobin dalam 1mm3 darah atau berkurangnya volume sel yang dipadatkan (packed red cells volume) dalam 100 ml darah (3,4). Menurut WHO anemia pada ibu hamil adalah kondisi ibu dengan kadar hemoglobim (Hb) dalam darahnya kurang dari 11,0 g%. Sedangkan menurut Saifuddin anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar hemoglobin dibawah 11,0 g% pada trimester I dan III <10,5 g% pada trimester II. Dalam kehamilan jumlah darah bertambah banyak (hiperemi/hipervolumia) sehingga terjadi pngenceran darah karena jumlah sel-sel darah tidak sebanding dengan pertambahan plasma darah. Bertambahnya darah dalam kehamilan sudah dimulai sejak kehamilan 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan antara 32-36 minggu. Secara fisiologis, pengenceran darah ini untuk membantu meringankan kerja jantung yang semakin berat dengan adanya kehamilan (1).
Epidemiologi

Wanita yang sedang mengandung, sangat umum menderita anemia. Prevalensi wanita hamil yang menderita anemia defisiensi zat besi, cukup tinggi di negara berkembang. Di Indonesia tercatat 70% wanita hamil yang menderita anemia defisiensi zat besi. Sangat sering dijumpai wanita hamil dengan hemoglobin kurang dari 12 g/dl pada pemeriksaan (1).
Kekurangan zat besi merupakan penyakit kekurangan gizi tunggal di dunia dan merupakan perhatian utama bagi == 15% dari populasi dunia. Sekitar 6-11% wanita usia reproduktif, 14% wanita muda berusia 15-19 y, dan == 25% wanita hamil kekurangan zat besi di Amerika Serikat dan Kanada (2).
Anemia gizi merupakan masalah kesehatan yang penting di banyak negara berkembang, termasuk Sri Lanka, dan menyebabkan penurunan kapasitas kerja fisik. Prevalensi anemia sangat tinggi selama kehamilan dan diperkirakan 59 tahun 1980 di negara berkembang. Ini adalah penyebab utama morbiditas dan kematian ibu dan juga mempengaruhi hasil akhir kehamilan (5).
Di Indonesia, angka anemia ibu hamil tetap saja masih tinggi meskipun sudah dilakukan pemeriksaan kehamilan dan pelayanan kesehatan. Berdasarkan data SKRT tahun 1995 dan 2001, anemia pada ibu hamil sempat mengalami penurunan dari 50,9% menjadi 40,1% (6).
Angka kejadian anemia di Indonesia semakin tinggi dikarenakan penanganan anemia dilakukan ketika ibu hamil bukan dimulai sebelum kehamilan. Berdasarkan profil kesehatan tahun 2010 didapatkan data bahwa cakupan pelayanan K4 meningkat dari 80,26% (tahun 2007) menjadi 86,04% (tahun 2008), namun cakupan pemberian tablet Fe kepada ibu hamil menurun dari 66,03% (tahun 2007) menjadi 48,14% (tahun 2008) (6).

Etiologi
Kekurangan besi dapat disebabkan (7,8,9) :
1. Kebutuhan yang meningkat secara fisiologis
 Pertumbuhan
Pada periode pertumbuhan cepat yaitu pada umur 1 tahun pertama dan masa remaja kebutuhan besi akan meningkat, sehingga pada periode ini insiden ADB meningkat. Pada bayi umur 1 tahun, berat badannya meningkat 3 kali dan massa hemoglobin dalam sirkulasi mencapai 2 kali lipat dibanding saat lahir, bayi prematur dengan pertumbuhan sangat cepat, pada umur 1 tahun berat badannya dapat mencapai 6 kali dan massa hemoglobin dalam sirkulasi mencapai 3 kali dibanding saat lahir.
 Menstruasi
Penyebab kurang besi yang sering terjadi pada anak perempuan adalah kehilangan darah lewat menstruasi.
 Infeksi
2. Kurangnya besi yang diserap.
 Masuknya besi dari makanan yang tidak adekuat
Seorang bayi pada 1 tahun pertama kehidupannya membutuhkan makanan yang banyak mengandung besi. Bayi cukup bulan akan menyerap lebih kurang 200 mg besi dalam satu tahun pertama (0,5 mg/hari) yang terutama digunakan untuk pertumbuhannya. Bayi yang mendapat ASI ekslusif jarang menderita kekurangan besi dalam 6 bulan pertama. Hal ini besi yang terkandung di dalam ASI lebih mudah diserap dibandingkan susu yang terkandung susu formula.
Diperkirakan sekitar 40% besi dalam ASI diabsorpsi bayi, sedangkan dari PASI hanya 10% besi yang dapat diabsorpsi.
 Malabsorpsi besi
Keadan ini sering dijumpai pada anak kurang gizi yang mukosa ususnya mengalami perubahan secara histologis dan fungsional. Pada orang yang telah mengalami gastrektomi parsial atau total sering disertai ADB walaupun penderita mendapat makanan yang cukup besi. Hal ini disebabkan berkurangnya jumlah asam lambung dan makanan lebih cepat melalui bagian atas usus halus, tempat utama peryerapan besi heme dan non heme.
3. Perdarahan
Kehilangan darah akibat perdarahan merupakan penyebab penting terjadinya Anemia Defisiensi Besi. Kehilangan darah akan mempengaruhi keseimbangan status besi. Kehilangan darah 1 ml akan mengakibatkan kehilangan besi 0,5 mg, sehingga kehilangan darah 3-4 ml/hari (1,5-2 mg besi ) dapat mengakibatkan keseimbangan negatif besi.
Perdarahan dapat berupa perdarahan saluran cerna, milk induce enterohepathy, ulkus peptikum karena obat-obatan ( asam asetil salisilat, kertikosteroid, indometasin, obat AINS) dan infestasi cacing (Ancylostoma doudenale dan Necator americanus) yang menyerang usus halus bagian proksimal dan menghisap darah dari pembuluh darah submukosa usus.
4. Transfusi feto-maternal
Kebocoran darah yang kronis ke dalam sirkulasi ibu akan menyebabkan ADB pada akhir masa fetus dan pada awal masa neonatus.
5. Hemoglobinuria.
Pada keadaan ini biasanya dijumpai pada anak yang memakai katup jantung buatan. Pada paroxysmal Nokturnal Hemoglobinuria (PNH) kehilangan besi melalui urin rata-rata 1,8-7,8 mh/hari.
6. Iatrogenic blood loss
Pada anak yang banyak diambil darah vena untuk pemeriksaan laboratorium berisiko menderita ADB.
7. Idiopatthic pulmonary hemosiderosis
Penyakit ini jarang terjadi. Penyakit ini ditandai dengan perdarahan paru yang hebat dan berulang serta adanya infiltrat pada paru yang hilang timbul. Keadaan ini dapat berulang menyebabkan kadar Hb menururn drastis hingga 1,5-3 g/dl dalam 24 jam.
8. Latihan yang berlebihan
Pada atlet yang berolah raga berat seperti olah raga lintas alam, sekitar 40% remaja perempuan dan 17 % remaja laki-laki feritin serumnya < 10 ug/dl. Perdarahan saluran cerna yang tidak tampak sebagai akibat iskemia hilang timbul pada usus selama latihan berat terjadi pada 50% pelari. Patofisiologi
secara patofisiologis anemia terjadi pada kehamilan karena terjadi perubahan hematologi atau sirkulasi yang meningkat terhadap plasenta. Hal ini berhubungan dengan meningkatnya volume plasma tetapi tidak sebanding dengan penambahan sel darah dan hemoglobin. Selain itu, dapat disebabkan kebutuhan zat besi yang meningkat serta kurangnya cadangan zat besi dan intake zat besi dalam makanan. Zat besi diperlukan untuk eritropoesis (6).
Jika total zat besi dalam tubuh menurun akibat cadangan dan intake zat besi yang menurun, maka akan terjadi penurunan zat besi pada hepatosit dan makrofag hati, limpa dan sumsum tulang belakang. Setelah cadangan habis, akan terjadi penurunan kadar Fe dalam plasma padahal suplai Fe pada sumsum tulang untuk pembentukan hemoglobin menurun. Hal ini mengakibatkan terjadinya peningkatan eritrosit tetapi mikrositik sehingga terjadi penurunan kadar hemoglobin (6).
Secara langsung anemia ringan tidak membahayakan jani yang dikandung ibu, karena bayi akan mengambil zat besi dari ibu sebanyak yang dibutuhkan. Kesehatan bayi akan terancam, jika anemia dibiarkan berlanjut dan tidak ada tindakan pengobatan. Kekurangan zat besi bisa menyebabkan terhambatnya pertumbuhan janin, bayi terlahir dengan BBLR (Berat Badan Lahir Rendah), prematur, kurangnya cadangan zat besi pada tubuh bayi. Atau lahir dengan cacat bawaan, bahkan dapat mengakibatkan kematian (abortus) (1).
Anemia yang diderita ibu, juga berpengaruh pada anak dikemudian hari. Daya tahan anak rendah dan anak rentan terhadap infeksi,karena fungsi sel fagosit yang menangkal bakteri infeksi tidak maksimal. Selain mempengaruhi fisik, anemia selama kehamilan juga dapat mempengaruhi kecerdasan anak. Anak yang dilahirkan oleh wanita anemia, akan mengalami penurunan kecerdasan intelejensi setelah dilahirkan. IQ anak dapat turun 6-9 poin (1).
Untuk kesehatan wanita hamil, anemia tidak boleh dianggap sepele. Anemia bisa sangat membahayakan keselamatan ibu, karena perdarahan pada saat persalinan akan semakin berat jika ibu menderita anemia. Perdarahan sendiri merupakan salah satu penyebab utama kematian pada ibu, disamping toksemia dan infeksi (1).
Dilaporkan, anemia pada wanita hamil dapat menyebabkan secara langsung atau tidak langsung kematian ibu sebesar 15-20%. Anemia pada kehamilan juga berhubungan dengan menigkatnya kesakitan ibu. Anemia pada wanita hamil meningkatkan frekuensi komplikasi pada kehamilan dan persalinan, resiko kematian maternal, angka prematuritas, BBLR dan angka kematian prinatal meningkat (1).
Wanita yang menderita anemia juga beresiko terhadap perdarahan antepartum dan postpartum. Hal ini sering berakibat fatal, sebab wanita yang anemis tidak dapat mentolelir kehilangan darah. Kemungkinan besar, anemia pada wanita hamil akan mengalami banyak gangguan. Seperti mudah pingsan, mudah keguguran atau proses melahirkan berlangsung lama akibat kontraksi yang tidak bagus (1).

Manifestasi Klinis
Pada tahap awal anemia (anemia ringan), penderita hampir tidak menampakkan gejala. Badan lemah, cepat lelah, lesu, letih kurang energi, nafsu akan menurun, gampang mengantuk, berkunag-kunang terutama bila bangkit dari duduk merupakan gejala klinis yang mudah diketahui. Gejala lain yang muncul adalah daya konsentrasi menurun, sakit kepala mudah terinfeksi penyakit, stamina tubuh menurun, detak jantung cepat. Ciri paling umum ditandai dengan wajah, selaput lendir kelopak mata, bibir dan kuku penderita tampak pucat. Anemia berat bisa terjadi dan dapat berakibat penderita sesak nafas, bahkan lemah jantung. Pembesaran limpa atau hati juga dapat terjadi, tergantung pada kondisi penyebab anemia (1).
Manifestasi klinis anemia diantaranya (6) :
Tanda
Takikardi
Hipotensi
Hemoglobin kurang dari 11gr/dL

Gejala
Cepat lelah
Sering pusing
Malaise
Anoreksia
Nausea dan Vomiting
Palpitasi
Pucat pada kulit dan mukosa

Keperawatan
PENGKAJIAN

1. Aktifitas / Istirahat
Keletihan, kelemahan, malaise umum.
Kehilangan produktifitas, penurunan semangat untuk bekerja
Toleransi terhadap latihan rendah.
Kebutuhan untuk istirahat dan tidur lebih banyak
2. Sirkulasi
Riwayat kehilangan darah kronis,
Riwayat endokarditis infektif kronis.
Palpitasi.
3. Integritas ego
Keyakinan agama atau budaya mempengaruhi pemilihan pengobatan, misalnya: penolakan tranfusi darah.
4. Eliminasi
Riwayat pielonenepritis, gagal ginjal.
Flatulen, sindrom malabsobsi.
Hematemesi, melana.
Diare atau konstipasi
5. Makanan / cairan
Nafsu makan menurun
Mual/ muntah
Berat badan menurun
6. Nyeri / kenyamanan
Lokasi nyeri terutama di daerah abdomen dan kepala.
7. Pernapasan
Napas pendek pada saat istirahat maupun aktifitas
8. Seksualitas
Perubahan menstuasi misalnya menoragia, amenore
Menurunnya fungsi seksual
Impotent

DIAGNOSIS DAN NOC-NIC (11) :
1. Ketidakseimbangan Nutirisi : Kurang dari Kebutuhan Tubuh b.d faktor biologis
Batasan Karakteristik :
o Kekurangan masukkan makanan
o Kekurangan berat badan

NOC : Status gizi
o Makanan oral
o pemberian makanan lewat selang, atau nutrisi parenteral total
o Asupan cairan oral atau IV

NIC : Nutrition Management
o Gali apakan pasien memiliki riwayat alergi makanan
o Pastikan pilihan makanan klien
o Kolaborasi dengan ahli diet, menentukan jumlah kalori dan tipe zat gizi yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi
o Anjurkan klien meningkatkan intake protein, zat besi dan vitamin C
o Tawarkan makanan ringan
o Pastikan diet mengandung makanan berserat tinggi untuk mencegah konstipasi
o Sediakan pilihan makanan
o Nilai kemampuan pasien memenuhi kebutuhan nutrisi
o Berikan substansi gula
o Pantau jumlah nutrisi dan kandungan kalorinya

Nutrition Monitoring
o Ukur BB klien
o Pantau perubahan kenaikan dan penurunan BB
o Pantau type dan jumlah aktivitas yang bisa dilakukan
o Pantau respon emosi pasien saat melakukan kegiatan yang berhubungan dengan makan dan makanan.
o Pantau interaksi orang tua/anak selama pemberian makan
o Pantau lingkungan selama makan
o Jadualkan tindakan dan pengobatan pada waktu diluar waktu makan



Tidak ada komentar:

Posting Komentar