Minggu, 23 Desember 2012

Gastroenteritis (Diare)

A. Definisi Gastroenteritis
Ada berbagai macam pendapat tentang pengertian gastroenteritis, yaitu sebagai berikut :
• Gastroentritis ( GE ) adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang memberikan gejala diare dengan atau tanpa disertai muntah (Sowden,et all.1996).
• Gastroenteritis diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekuensi yang lebih banyak dari biasanya (FKUI,1965).
• Gastroenteritis adalah inflamasi pada daerah lambung dan intestinal yang disebabkan oleh bakteri yang bermacam-macam,virus dan parasit yang patogen (Whaley & Wong’s,1995).
• Gastroenteritis adalah kondisi dengan karakteristik adanya muntah dan diare yang disebabkan oleh infeksi,alergi atau keracunan zat makanan ( Marlenan Mayers,1995 ).
Jadi dari keempat pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa gastroenteritis adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang memberikan gejala diare dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya yang disebabkan oleh bakteri,virus dan parasit yang patogen.
Di masyarakat gastroenteritis di kenal dengan nama diare.
• Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan jumlah tinja yang lebih banyak dari biasanya (normal 100 – 200 ml per jam tinja), dengan tinja berbentuk cairan atau setengah cair (setengah padat), dapat pula disertai frekuensi defekasi yang meningkat (Mansjoer, Arif., et all. 1999).
• Diare adalah buang air besar encer atau cair lebih dari tiga kali sehari ( WHO, 1980),

Etiologi
Penyebab dari gastroenteritis adalah :
1. Makanan dan Minuman
o kekurangan zat gizi; kelaparan (perut kosong) apalagi bila perut kosong dalam waktu yang cukup lama, kemudian diisi dengan makanan dan minuman dalam jumlah banyak pada waktu yang bersamaan, terutama makanan yang berlemak, terlalu manis, banyak serat atau dapat juga karena kekurangan zat putih telur.
o Tidak tahan terhadap makanan tertentu (Protein, Hidrat Arang, Lemak) yang dapat menimbulkan alergi.
o Keracunan makanan
2. Infeksi atau Investasi Parasit Bakteri, virus, dan parasit yang sering ditemukan:
o Vibrio Cholerae, E. coli, Salmonella, Shigella, Compylobacter, Aeromonas.
o Enterovirus (Echo, Coxsakie, Poliomyelitis), Adenovius, Rotavirus, Astovirus.
o Beberapa cacing antara lain: Ascaris, Trichurius, Oxyuris, Strongyloides, Protozoa seperti Entamoeba Histolytica, Giardia lamblia, Tricomonas Hominis.
3. Jamur (Candida Albicans)
4. Infeksi diluar saluran pencernaan yang dapat menyebabkan Gastroenteritis adalah Encephalitis (radang otak), OMA (Ortitis Media Akut → radang dikuping), Tonsilofaringitis (radang pada leher → tonsil), Bronchopeneumonia (radang paru).
5. Perubahan udara
Perubahan udara sering menyebabkan seseorang merasakan tidak enak dibagian perut, kembung, diare dan mengakibatkan rasa lemas, oleh karena cairan tubuh yang terkuras habis.
6. Faktor Lingkungan
Kebersihan lingkungan tidak dapat diabaikan. Pada musim penghujan, dimana air membawa sampah dan kotoran lainnya, dan juga pada waktu kemarau dimana lalat tidak dapat dihindari apalagi disertai tiupan angin yang cukup besar, sehingga penularan lebih mudah terjadi. Persediaan air bersih kurang sehingga terpaksa menggunakan air seadanya, dan terkadang lupa cuci tangan sebelum dan sesudah makan.

Akibat Yang Dapat Terjadi:
Radang pada saluran cerna dapat menyebabkan peningkatan suhu tubuh, diare dengan berbagai macam komplikasi yaitu dehidrasi, baik ringan, sedang atau berat. Selain itu diare juga menyebabkan berkurangnya cairan tubuh (Hipovolemik), kadar Natrium menurun (Hiponatremia), dan kadar gula dalam tubuh turun (Hipoglikemik), sebagai akibatnya tubuh akan bertambah lemas dan tidak bertenaga yang dilanjutkan dengan penurunan kesadaran, bahkan dapat sampai kematian. Kondisi seperti ini akan semakin cepat apabila diare disertai dengan muntah-muntah, yang artinya pengeluaran cairan tidak disertai dengan masukkan cairan sama sekali.
Pada keadaan tertentu, infeksi akibat parasit juga dapat menyebabkan perdarahan. Kuman mengeluarkan racun diaregenik yang menyebabkan hipersekresi (peningkatan volume buangan) sehingga cairan menjadi encer, terkadang mengandung darah dan lendir.

D. Patofisiologi
Penyebab gastroenteritis akut adalah masuknya virus (Rotravirus, Adenovirus enteris, Virus Norwalk), Bakteri atau toksin (Compylobacter, Salmonella, Escherihia Coli, Yersinia dan lainnya), parasit (Biardia Lambia, Cryptosporidium). Beberapa mikroorganisme patogen ini menyebabkan infeksi pada sel-sel, memproduksi enterotoksin atau Cytotoksin dimana merusak sel-sel, atau melekat pada dinding usus pada gastroenteritis akut.
Penularan gastroenteritis bisa melalui fekal-oral dari satu klien ke klien yang lainnya. Beberapa kasus ditemui penyebaran patogen dikarenakan makanan dan minuman yang terkontaminasi.
Mekanisme dasar penyebab timbulnya diare adalah gangguan osmotik (makanan yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus, isi rongga usus berlebihan sehingga timbul diare ). Selain itu menimbulkan gangguan sekresi akibat toksin di dinding usus, sehingga sekresi air dan elektrolit meningkat kemudian terjadi diare. Gangguan mutilitas usus yang mengakibatkan hiperperistaltik dan hipoperistaltik. Akibat dari diare itu sendiri adalah kehilangan air dan elektrolit (dehidrasi) yang mengakibatkan gangguan asam basa (asidosis metabolik dan hipokalemia), gangguan gizi (intake kurang, output berlebih), hipoglikemia dan gangguan sirkulasi darah.

F. Penatalaksanaan
1. Pemberian Cairan
Pemberian cairan merupakan tindakan awal yang dapat dilakukan. Sebaiknya diberikan cairan yang mengandung elektrolit atau yang dikenal sebagai Oralit.
Kecepatan pemberian cairan terutama pada 6 jam pertama berguna untuk mengatasi cairan yang keluar dan mencegah terjadinya dehidrasi (kekurangan cairan). Pemberian cairan dihentikan bila jumlah diare dalam 6 jam terakhir kurang dari 200 cc dan tanda-tanda dehidrasi sudah hilang.
Kebutuhan tubuh terhadap cairan dan elektrolit :
o Cairan
 Dewasa : 50 cc/kg/24 jam
 Anak - anak
- 10 kg pertama : 100 cc/kgBB/24 jam
- 10 kg kedua : 50 cc/kgBB/24 jam
- > : 20 cc/kgBB/jam
o Kebutuhan Na
 3 – 5 meq/kgBB/24 jam
Sifat cairan :
o Hipotonis : D 5%
 Akan mengisi interstitial dan intrasel
o Isotonis : RL, NS, Ringer Asetat
 Bertahan di vaskular
o Hipertonis : koloid ; HES
 Menarik cairan dari ISF dan ICF menuju IV
Kandungan elektrolit dalam sediaan Infus (meq/L)
o RL :
 Na+ = 131
o NaCl 0.9%
 Na+ = 154
o Ringer asetat (asering)
 Na+ = 130
o D 5% = - (glukosa 50 gr/L)
Jenis terapi cairan
o Maintenance
o Rehidrasi
1. Tentukan Derajat Dehidrasi
2. Hitung derajat kehilangan cairan tubuh
3. hitung kebutuhan cairan
4. evaluasi
Rehidrasi dibagi menjadi 2 :
 Oral
• Baik pada dehidrasi derajat ringan – sedang
• Gunakan oralit
• 1 sdt garam + 8 sdt gula
• Selesaikan dalam 4 jam
Dosis :
• Ringan : 50 ml/kg
• Sedang : 100 ml/kg
 Parenteral
• Hitung kebutuhan cairan cairan
Cara
- 1 jam I = 20 cc /kgBB/jam E v a l u a s i
- 1 jam II = 20 cc/kgBB/jam E v a l u a s i
- 1 jam III = 10 cc/kgBB/jam E v a l u a s I
Jika dalam 3 jam masih jelek maka harus kembali ke cara 1 jam I
Evaluasi :
- Nadi
- Tensi
- Urin
- mukosa

o Resusitasi
o Dilakukan pada kasus perdarahan
o 1 cc darah dapat digantikan dengan 3 - 4 cc RL
Terjadi dalam waktu singkat, terjadi penurunan cairan IV, namun ISF dan ICF tetap
2. Pemberian Makanan
Selama pemberian cairan, makanan cair seperti bubur cair, kaldu, atau bubur saring boleh diberikan, tetapi sayur (serat) dapat diberikan apabila keadaan akut sudah teratasi dan pemberian serat dapat diberikan secara bertahap sampai dengan pemberian makanan biasa.
3. Pemberian Obat
Bila gastroenteritis disebabkan oleh infeksi atau investasi parasit, maka diperlukan pemberian obat, segera ke puskesmas, ke dokter, atau ke Rumah Sakit untuk pengobatan dan penanganan selanjutnya. Jika gejalanya membaik, penderita secara bertahap mendapatkan makanan lunak seperti gandum, pisang, bubur nasi, selai apel dan roti panggang.
Jika makanan tersebut tidak menghentikan diare setelah 12-24 jam dan bila tidak terdapat darah pada tinja, berarti ada infeksi bakteri yang serius, dan diberikan obat-obat seperti difenoksilat, loperamide atau bismuth subsalisilat. Karena antibiotik dapat menyebabkan diare dan merangsang pertumbuhan organisme yang resisten terhadap antibiotik, maka antibiotik jarang digunakan meskipun diketahui penyebabnya adalah bakteri.
Antibiotik bisa digunakan, tetapi pada infeksi bakteri tertentu, yaitu Campylobacter, Shigella dan Vibrio cholerae.

Diagnosa Keperawatan GE
1. Defisit volume cairan b.d kehilangan volume cairan secara aktif dan kegagalan mekanisme regulasi.
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan mengabsorbsi nutrisi factor biologi dan factor psikologi.
3. Risiko kerusakan integritas kulit.
4. Gangguan rasa nyaman.
5. Kurang pengetahuan b.d kurangnya informasi tentang penyakit.


DAFTAR PUSTAKA

Brunner, Suddarth. Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 vol.2. Jakarta: EGC. 2001

Long, BC. Perawatan Medikal Bedah III. Bandung: Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Padjadjaran. Bandung. 1996

Anonymous. Nanda Internasional Nursing Diagnoses 2009 – 2011. US : wiley-blackwell





Tidak ada komentar:

Posting Komentar